Gatot Kaca

on Juli 14, 2011

Sri Wijaya sudah terbang. Tiga puluh satu kaki diatas langit kota metropolitan, Surabaya. Ditinggalkannya sudah Juanda, dan kenangan yang dia tak perduli aku menginginkannya.

..........



Ketika lonceng berdering, jam sepuluh kurang lima belas menit lagi. Aku membayangkan berlari dalam padang penuh bunga aster. Menyeberanginya hingga Majapahit. Memanjat candi-candi tua, yang sudah mulai keriput dan sakit gigi. Hingga dipuncak kejayaan, Gatot Kaca membawaku berkeliling dunia. Dia tidak seperti dalam iklan yang diibaratkan dengan lelaki tambun berkumis. Ia berbeda, wajahnya tampan, kulitnya bersih, ototnya kekar, hingga dapat kurasakan bisepnya memeluk pinggangku.



Ia menyanyikanku sebuah lagu, saat kami duduk dipinggiran sungai nil. Ia berkata itu lagu yang dibuatnya untukku, berbahasa jawa kuno, bercerita tentang perjuangannya menyatukan nusantara dan aku. Aku mencoba memejamkan mata dan berbaring di pundak Gatot Kaca. Ia mengelus kepalaku, dan aku terlelap.



Kabut berkelebat didepanku, namun sirna saat seseorang menggengam tanganku. Tangan Gatot Kaca, entah apa yang membuatku tak ingin melepaskannya. Ia menggandengkuku ke ujung sebuah tebing, disana terhampar laut luas, dan matahari yang hampir terbenam. Langit berubah jingga, dan awan kelabu berlapis-lapis dilangit.



"Bisakah aku tetap disini, Gatot Kaca ? "kataku pelan pada Gatot Kaca

Gatot Kaca menatapku sedih,"Itu yang aku inginkan, tapi tidak bisa"

"Kenapa?"

"Ini bukan tempatmu, masaku dan masamu jauh berbeda"Gatot Kaca menatap jauh kelautan.

"Biarkan saja aku tinggal" aku bersikeras

"Aku akan menyatukan nusantara,dan kutitipkan semuanya padamu, tinggallah disana, maka setiap kau berjalan diatas tanah ini atau menghirup udara dari pepohonana yang kujaga, akan selalu kau rasakan kehadiranku"



Aku tak dapat berbicara apa-apa. Aku ingin menangis, tapi senyuman Gatot kaca membuatku sadar. Masih ada kesempatan untuk berjumpa lagi, tapi bukan disini. Kabut kembali datang, kini lebih lebat, suram, dan perlahan kurasakan genggaman Gatot Kaca menghilang dari tanganku. Aku kehilangan wajahnya, semua tenggelam, dalam kabut kelam.



............



Aku terbangun dalam kabin Sri Wijaya, masih lama hingga pesawat ini mendarat. Kuremas tanganku dan masih kurasakan genggaman tangan Gatot Kaca, harum melati tubuhnya samar-samar masih tercium, namun ia telah menghilang, dan meninggalkan tanah ini untuk aku jaga.

0 komentar:

Posting Komentar